Selain tradisi Dugderan, rangkaian _side event_ seni dan budaya juga diisi berbagai kegiatan yang memberi ruang bagi seni, literasi, dan kreativitas Islami. Pameran Kaligrafi Internasional, Festival Kaligrafi, Lomba Cerpen, Lomba Mewarnai, Lomba Bacaan Surat Pendek, kegiatan musik untuk anak-anak, serta berbagai pertunjukan seni turut menjadi bagian dari rangkaian MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang.

Agustina menilai keterlibatan pelajar, seniman, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting agar semangat MTQ dapat dirasakan lebih luas.

“MTQ harus menjadi milik bersama. Anak-anak, pelajar, seniman, komunitas, masyarakat, dan para kafilah dari berbagai daerah semuanya harus bisa merasakan semangat MTQ. Kita ingin Al-Qur’an hadir melalui kompetisi, seni, literasi, kreativitas, dan kegiatan yang dekat dengan masyarakat,” katanya.

Salah satu agenda seni Islami yang turut dihadirkan adalah Lomba Rebana Tingkat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Agustina mengatakan, rebana memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat Muslim Indonesia. Seni rebana menjadi bagian dari ekspresi seni dan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus menjadi sarana mempertemukan kelompok-kelompok dari berbagai daerah.

“Rebana adalah bagian dari tradisi keislaman yang tumbuh kuat di tengah masyarakat. Melalui Lomba Rebana Tingkat Nasional, kita ingin memberikan ruang bagi seni Islami untuk berkembang sekaligus mempertemukan kelompok-kelompok dari berbagai daerah. Ada silaturahmi, ada kreativitas, dan ada semangat untuk bersama-sama menjaga tradisi,” ungkapnya.