Gambaran kebersamaan itu terlihat nyata. Sebanyak 10.867 warga lintas agama turut hadir di lokasi utama dan menyanyikan mars yang sama. Mereka berasal dari unsur ASN, santri, guru, serta perwakilan komunitas Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Bagi Agustina, kehadiran beragam latar belakang dalam satu panggung mencerminkan wajah Semarang yang terbuka dan ramah. Hal itu, ujarnya, sejalan dengan filosofi _Warak Ngendog_ yang selama ini menjadi simbol persatuan warga kota.

Sambutan Hangat untuk 38 Provinsi

Kemeriahan pembukaan juga dirasakan para kafilah dari berbagai daerah. Ayas Lukman Hakim, peserta dari Provinsi Banten, mengaku terkesan dengan kesiapan panitia.

“Sambutannya sangat maksimal. Setiap kafilah dan tamu undangan diberikan pendamping atau Liaison Officer. Ini membuat kami merasa sangat dihargai dan merasakan MTQ ini benar-benar disiapkan untuk mensyiarkan silaturahmi,” ujarnya.

MTQ Nasional XXXI di Semarang akan berlangsung hingga 20 September 2026 dan diikuti kafilah dari 37 provinsi.