Pendidikan
TEP UNDIP dan Petani Senggi Kolaborasi Tanam Padi Lewat Tradisi Royongan
TEP UNDIP bersama petani Senggi, Keerom, turun langsung menanam padi melalui tradisi royongan sebagai upaya mendukung pertanian dan solidaritas sosial.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa royongan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan pertanian. Tradisi ini menjadi salah satu modal sosial yang menjaga hubungan antarwarga sekaligus membangun rasa saling percaya.
Bagi TEP UNDIP, keterlibatan langsung bersama masyarakat menjadi bagian dari proses memahami potensi dan kebutuhan kawasan transmigrasi. Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan dapat diperkuat dengan memanfaatkan nilai dan kekuatan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
Penanaman padi bersama turut memberikan dukungan terhadap aktivitas pertanian dan ketahanan pangan lokal. Produksi pangan menjadi semakin penting karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Di tengah proses tersebut, tradisi lokal tetap memiliki posisi penting. Royongan menunjukkan bahwa penguatan ekonomi dan ketahanan pangan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian nilai kebersamaan.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan pertanian dan ketahanan pangan mendukung SDG 2 atau Tanpa Kelaparan, sementara semangat solidaritas dan inklusi sosial berkaitan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Kolaborasi TEP UNDIP dengan masyarakat juga sejalan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kemitraan tersebut diwujudkan melalui keterlibatan langsung akademisi bersama masyarakat dalam aktivitas yang memiliki manfaat nyata.
Baca juga
Baca Juga
Kategori
Berita Kategori Lainnya
Pilihan Redaksi




















