KEEROM Harapan mengembangkan lahan pertanian kini terbuka bagi masyarakat di kawasan transmigrasi Kampung Woslay, SP 2 Distrik Senggi, Kabupaten Keerom. Persoalan keterbatasan air yang selama ini membuat warga ragu mengolah lahan di seberang jembatan mulai dicarikan solusi melalui pembangunan embung.

Inisiatif pembangunan embung tersebut digagas Tim 17 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Kementerian Koordinator Bidang Transmigrasi (Kemenko Trans). Infrastruktur penampungan air ini dirancang untuk mendukung kebutuhan irigasi sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.

Bagi warga setempat, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan aktivitas pertanian. Ancaman kekeringan selama ini menjadi salah satu alasan lahan di kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Tim Patriot UNDIP kemudian melakukan kajian teknis sebagai dasar pembangunan. Kajian meliputi kondisi tanah dan perhitungan hidrologi untuk memastikan desain embung sesuai dengan karakteristik lokasi.

Dari hasil kajian, embung dirancang memiliki panjang 60 meter, lebar 25 meter dan kedalaman 3 meter.

Namun, pembangunan tidak hanya dirancang dari sisi teknis. Tim juga melibatkan masyarakat melalui dialog bersama kelompok tani dan warga lokal. Pendekatan partisipatif tersebut dilakukan agar infrastruktur yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus dapat dijaga keberlanjutannya.

Dukungan terhadap rencana tersebut juga datang dari Pemerintah Kabupaten Keerom. Tim Patriot UNDIP telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR, Dinas Pertanian dan Dinas Transmigrasi untuk membahas rencana pembangunan embung.

Pemkab Keerom menyambut positif kolaborasi tersebut. Bahkan, apabila pembangunan embung di jalur 3 SP 2 Senggi berhasil direalisasikan, pemerintah daerah mendorong adanya replikasi di sejumlah titik strategis lainnya.

Rencana pengerjaan fisik menggunakan excavator menjadi tahapan lanjutan dalam mewujudkan embung tersebut. Infrastruktur ini diharapkan mampu menyediakan cadangan air yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas pertanian masyarakat.

Lebih jauh, pembangunan embung juga memiliki arti strategis bagi penguatan ketahanan pangan di kawasan perbatasan negara. Ketersediaan air yang lebih terjamin dapat menjadi modal penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis riset dalam menjawab persoalan pembangunan di daerah.

Program ini juga mendukung sejumlah sasaran Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pengentasan kelaparan, penyediaan air bersih serta penguatan kemitraan.

Dengan hadirnya embung, masyarakat Kampung Woslay diharapkan tidak lagi melihat keterbatasan air sebagai penghalang utama untuk mengembangkan lahan. Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan di kawasan perbatasan Keerom. (fi)