Keempat tokoh kera memiliki karakter yang berbeda. Kera Merah digambarkan pemberani, Kera Putih cerdas, Kera Kuning menghadirkan unsur humor, sedangkan Kera Hitam memiliki kekuatan dan kepedulian terhadap sesama.

Perbedaan karakter tersebut menjadi ruang bagi pendongeng untuk menunjukkan kemampuan mengolah intonasi, ekspresi, serta penguasaan alur.

Proses pengembangan karya ini mendapat pembinaan dari Nur Khotimah, M.Pd., dosen pengampu mata kuliah Seni Berkisah di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang.

Menurut Nur Khotimah, seni berkisah merupakan bagian penting dari kompetensi calon pendidik. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara, tetapi juga bagaimana menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.

“Seni berkisah bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan cerita secara menarik, melainkan juga tentang bagaimana seorang calon pendidik mampu menghadirkan pengalaman belajar yang mendalam. Melalui dongeng, mahasiswa belajar memadukan komunikasi, kreativitas, imajinasi, pendidikan karakter, dan nilai budaya lokal. Prestasi Najwa menjadi contoh bagaimana kompetensi yang dikembangkan melalui pembelajaran dapat diterapkan dalam ruang kompetisi sekaligus memiliki relevansi bagi praktik pendidikan anak usia dini,” ujarnya.

Prestasi Mahasiswa Sekaligus Menjaga Warisan Budaya

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag., mengapresiasi prestasi yang diraih Najwa. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa merupakan bagian dari pengembangan kualitas calon pendidik yang memiliki kompetensi akademik, kreativitas, dan tanggung jawab sosial.