Ia mencontohkan Warak Ngendog sebagai simbol akulturasi budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa yang menjadi bagian dari identitas Kota Semarang. Karena itu, menurut Agustina, pelestarian budaya harus dilakukan dengan memahami akar sekaligus memberi ruang bagi ekspresi budaya untuk berkembang.

Komitmen tersebut, lanjut dia, juga berkaitan dengan penguatan ekonomi kota. Festival Kota Lama yang menghadirkan berbagai pertunjukan budaya, termasuk Wayang On The Street, dinilai mampu menarik wisatawan, menghidupkan aktivitas perdagangan, dan memperluas perputaran ekonomi masyarakat Kota Semarang.

Pengalaman Wayang Orang Ngesti Pandowo tampil di Rotterdam, Belanda, juga disebut sebagai bukti bahwa seni tradisi dari Kota Semarang memiliki daya jangkau luas. Agustina menilai capaian itu perlu diteruskan melalui kebijakan yang konsisten dan dukungan bersama untuk menjaga keberlanjutannya.

Agustina juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dan komunitas dalam pelestarian wayang. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan budaya membutuhkan regenerasi agar wayang tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

“Biarkan wayang membawa cerita, Kota Lama membawa suasana, dan Kota Semarang memberi pengalaman yang akan dibawa pulang oleh setiap tamu yang datang,” kata Agustina.

Melalui Wayang On The Street, Agustina ingin menjadikan budaya bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman kota yang dapat dinikmati masyarakat sekaligus memperkuat identitas Kota Semarang sebagai kota yang terbuka, berbudaya, dan mampu mengharmonikan keberagaman.(fi)