Pameran tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, kafilah, maupun tamu yang datang dari berbagai daerah. Selain memperkenalkan produk lokal, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring pasar bagi pelaku UMKM dan sektor ekonomi kreatif.

“MTQ ini mempertemukan banyak orang dari berbagai daerah dengan Kota Semarang. Kami ingin pertemuan itu juga mempertemukan mereka dengan produk-produk lokal kita. Jadi yang dibawa pulang dari Kota Semarang bukan hanya kenangan tentang MTQ, tetapi juga cerita tentang kuliner, karya, dan kreativitas warganya,” kata Agustina.

Upaya memperkenalkan kuliner lokal tersebut juga berkaitan dengan pengembangan Zona KHAS atau Kuliner Halal, Aman dan Sehat. Saat ini, Kota Semarang telah memiliki sembilan lokasi Zona KHAS.

Sementara itu, kawasan kuliner Simpang Lima masih dalam proses pembentukan Zona KHAS sebagai salah satu dukungan untuk pelaksanaan MTQ Nasional XXXI. Program ini meliputi perlindungan konsumen, peningkatan higiene dan sanitasi, percepatan sertifikasi halal bagi UMKM, serta pengembangan gaya hidup sehat dan destinasi wisata ramah muslim.

Tidak hanya mengangkat sektor ekonomi kreatif, side event MTQ Nasional XXXI Semarang juga diisi berbagai kegiatan seni dan budaya. Salah satunya adalah Pameran Kaligrafi Internasional yang akan menghadirkan 75 karya seniman dari 50 negara.

Selain itu, pameran tersebut juga menampilkan 125 karya seniman yang berasal dari 16 provinsi di Indonesia. Festival Rebana Nasional dan ajang kreasi anak-anak turut masuk dalam rangkaian kegiatan pendukung MTQ Nasional XXXI.