Namun, kemampuan angkut itu tidak selalu dapat digunakan secara maksimal. Faktor medan dan ketinggian menjadi pertimbangan dalam menentukan beban yang dapat dibawa helikopter.

“Tapi sekarang kita punya heli yang bisa mengangkat beban secara spek itu bisa sampai 5 ton. Tapi kalau ketinggian, mungkin kita amannya 3 ton lah,” ujarnya.

Kemampuan tersebut, kata Maruli, tidak hanya digunakan untuk mendukung kebutuhan internal TNI AD. Helikopter pengangkut beban juga dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang tinggal di wilayah sulit dijangkau, terutama kawasan pegunungan Papua.

“Sehingga ini juga bisa sekalian mendukung personel kita, juga bisa membantu masyarakat. Ya selama ini kita masyarakat yang di pegunungan di Papua ini bantuan-bantuannya sulit, ya. Karena keterbatasan penerbangan,” kata Maruli.

Nanti ke depan ini mungkin operasional bulan 10 ada dua jenis yang bisa, jenis Kamov yang bisa untuk membantu masyarakat,” sambungnya.

Selain kemampuan mengangkut beban dan personel, TNI AD juga tengah mengembangkan fungsi helikopter untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya melalui metode water bombing atau pemadaman dari udara dengan menjatuhkan air ke titik kebakaran.