“Tradisi ini menunjukkan bahwa Kota Semarang tumbuh dari keberagaman yang saling menghormati. Semangat kebersamaan dan keterbukaan inilah yang kami persembahkan untuk menyambut seluruh tamu MTQ Nasional,” jelasnya.

Kirab dimulai dari halaman Alun-Alun Masjid Agung Kauman, melintasi Jalan Kolonel Sugiono dan Jalan Imam Bonjol, berputar di kawasan titik nol Kota Lama Semarang, kemudian kembali ke kawasan Kauman.

Setelah kirab, masyarakat dan para kafilah menikmati Ganjel Rel yang dibagikan dalam rangkaian acara. Penampilan musik religi turut menghidupkan suasana kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman.

Bagi para kafilah, rangkaian tersebut menjadi pengalaman lain selama berada di Kota Semarang. Setelah mengikuti agenda MTQ, mereka dapat melihat langsung tradisi, kesenian, kuliner, serta keberagaman masyarakat yang tumbuh dalam kehidupan kota.

Agustina berharap pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang dibawa pulang para kafilah setelah MTQ Nasional XXXI selesai.

“Sajian kue Ganjel Rel dan seluruh rangkaian acara sore ini kami persembahkan untuk seluruh kafilah. Semoga kebersamaan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, dan membawa cerita hangat tentang Kota Semarang pulang ke daerah masing-masing,” tutup Agustina.(fi)