SEMARANG – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan sesaat, tetapi berkembang sebagai ruang budaya yang aktif dan berkelanjutan.

Gagasan tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri Nostalgia Dugderan dan Bazar Expo Kauman Kampung Qur’an, Minggu (13/9/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian side event MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang.

Menurut Agustina, suasana Alun-Alun yang kembali dipenuhi pertunjukan seni, aktivitas anak-anak, dan kegiatan UMKM menunjukkan potensi kawasan tersebut untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat aktivitas budaya masyarakat.

“Saya berharap suatu hari kita sampai pada titik di mana ada perhelatan budaya yang berkesinambungan di Alun-Alun. Kehadiran pusat budaya ini tentunya membuat roda perekonomian warga terus berputar,” ujar Agustina.

Budaya dan Ekonomi Bisa Tumbuh Bersama

Bagi Agustina, keberlanjutan kegiatan budaya di Alun-Alun Kauman memiliki dampak yang lebih luas. Ketika masyarakat terus datang untuk menikmati pertunjukan maupun kegiatan lainnya, pelaku usaha di sekitar kawasan juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan aktivitas ekonominya.

Konsep tersebut terlihat dalam Nostalgia Dugderan yang menggabungkan pertunjukan seni dengan bazar UMKM. Tradisi yang menjadi bagian dari identitas Kota Semarang dipertemukan dengan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan Kauman.

Agustina berharap pola kegiatan seperti itu dapat terus dikembangkan sehingga Alun-Alun menjadi ruang publik yang hidup sepanjang waktu, bukan hanya ramai ketika ada agenda tertentu.

Anak Muda Dilibatkan untuk Merawat Budaya

Selain aspek ekonomi, Agustina juga menaruh perhatian pada keterlibatan anak-anak dalam kegiatan seni. Dalam Nostalgia Dugderan, generasi muda tampil membawakan sejumlah pertunjukan, salah satunya tari Gado-Gado Semarang.

Menurut Agustina, keterlibatan anak-anak dalam proses kesenian menjadi bagian penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.

“Latihan menari bukan sekadar menggerakkan tubuh, melainkan harus menjiwai. Lewat wejangan para pelatih, anak-anak merasa tarian tersebut adalah bagian dari diri mereka,” katanya.

Ia menilai pengalaman tampil di atas panggung budaya, terlebih di hadapan masyarakat dan tamu dari berbagai daerah, dapat menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak.

“Apa yang anak-anak lakukan hari ini akan tercatat dalam sejarah perjalanan hidup mereka. Kelak saat dewasa, mereka akan mengingat indahnya kenangan masa kecil ketika menjadi pusat perhatian di panggung budaya kota ini,” tutur Agustina.

Jadi Ruang Pengenalan Budaya bagi Kafilah MTQ

Kegiatan di Alun-Alun Kauman juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan karakter budaya Kota Semarang kepada para kafilah MTQ Nasional XXXI yang datang dari berbagai daerah.

Di sela agenda utama MTQ, para kafilah berkesempatan melihat langsung tradisi dan aktivitas masyarakat Semarang. Nostalgia Dugderan menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal dalam suasana yang lebih santai dan terbuka.

Agustina berharap semarak kegiatan di kawasan tersebut dapat dipertahankan hingga seluruh rangkaian side event MTQ Nasional XXXI berakhir pada 18 September 2026.

“Mari kita jaga bersama suasana ramai ini. Kita berikan ruang bagi anak-anak untuk menari, sekaligus menghadirkan kenyamanan bagi siapa saja yang berkunjung ke Kota Semarang,” ujarnya.

Menurut Agustina, masa depan Alun-Alun Kauman bukan sekadar ditentukan oleh banyaknya acara yang digelar. Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, menjaga keberlangsungan budaya, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan di sekitarnya.(fi)