SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan volume impor sapi hidup pada periode Januari hingga Juli 2026 yang mencapai 92,7 ribu ton dengan nilai USD 31 juta atau Rp 5,87 triliun (kurs Rp 17.744).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan seluruh pasokan sapi hidup tersebut secara penuh didatangkan dari Australia.

“Impor sapi hidup sepanjang Januari sampai dengan Juli 2026 volume nya itu 92,7 ribu ton. Nilainya itu USD 331 juta dan negara asalnya ini seluruhnya dari Australia,” sebut Ateng, Selasa (1/9).

Selain itu, Ateng juga menyebut RI mengimpor daging jenis lembu, dengan total volume yang masuk tercatat sebanyak 85,1 ribu ton dengan nilai transaksi mencapai USD 373,3 juta.

“Ada tiga negara asalnya untuk yang impor daging jenis lembunya, yang pertama dari Australia, kemudian dari IndBPS sebelumnya menyatakan Australia selama ini menjadi pemasok utama sapi hidup ke Indonesia karena kedekatan geografis dan kapasitas produksi yang besar.

BPS sebelumnya menyatakan Australia selama ini menjadi pemasok utama sapi hidup ke Indonesia karena kedekatan geografis dan kapasitas produksi yang besar.

Impor sapi hidup umumnya digunakan untuk kebutuhan penggemukan di dalam negeri ,sebelum dipasarkan ke konsumen dan pelaku usaha.

Di sisi lain total nilai impor RI mengalami kenaikan pada Juli 2026. Nilai impor Indonesia pada bulan tersebut mencapai USD 26,09 miliar atau naik 27,02 persen dibanding Juli 2025 yang tercatat USD 20,54 miliar.

Secara kumulatif, total nilai impor Indonesia periode Januari-Juli 2026 mengalami kenaikan sebesar 19,94 persen secara tahunan. Pada Januari-Juli 2026, impor tercatat sebesar USD 163,33 miliar, sementara pada Januari-Juli 2025 nilai impor tercatat USD 136,18 miliar.