Selain mengejar peningkatan produksi pangan, pengembangan kawasan tersebut juga memperhatikan aspek pelestarian lingkungan. Pepohonan yang telah tumbuh di area tersebut tetap dipertahankan agar aktivitas pertanian berjalan selaras dengan keberlanjutan ekosistem.
Ke depan, kawasan ini akan dikembangkan sebagai pengembangan Agro Eduwisata Religi di Banjarnegara yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perkebunan, wisata edukasi, serta kegiatan keagamaan, termasuk penyediaan fasilitas manasik haji.
Ketua SGN Pusat, Muhammad Chamzah Hasan, mengatakan program pemberdayaan santri melalui sektor pertanian berawal dari arahan Wakil Gubernur Jawa Tengah agar SGN mampu memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Menurutnya, SGN bersama Indonesia Power akan mengelola lahan seluas 57 hektare tersebut secara bertahap bersama kelompok tani sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Santri Gayeng berada di depan sebagai fasilitator, tetapi yang merasakan manfaatnya adalah masyarakat, terutama kelompok tani. Dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Himawan Wahyu, menjelaskan kawasan tersebut dikembangkan menggunakan konsep pertanian terintegrasi yang menggabungkan tanaman pangan, hortikultura, peternakan, kehutanan, hingga wisata edukasi.
Selain jagung, lahan tersebut juga ditanami padi, cabai, kembang kol, dan terong. Pada sektor kehutanan dikembangkan tanaman multipurpose berupa durian dan alpukat. Sementara itu, sektor peternakan menerapkan budidaya kambing dengan sistem silvopastura sehingga limbah ternak dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik.
Himawan menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyiapkan dukungan pengembangan jagung seluas 3.200 hektare pada 2026 sebagai bagian dari program swasembada jagung. Program tersebut mencakup Kabupaten Banjarnegara dan diharapkan semakin memperkuat Pertanian Terpadu sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan di Jawa Tengah.