BOYOLALI, ARUMAKATA.COM Bantuan rumah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membawa kebahagiaan besar bagi Tristiyorini, warga Karangrejo RT 27 RW 8, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah dan menumpang di rumah keluarga, kini ia bersama suami serta ketiga anaknya akhirnya memiliki rumah sendiri melalui program yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Perjalanan panjang itu masih membekas dalam ingatan Tristiyorini. Saat ditemui pada Selasa (21/7/2026), ia mengaku masih sulit mempercayai bahwa kini keluarganya telah memiliki tempat tinggal sendiri berkat program Pemprov Jateng. Baginya, rumah sederhana tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan.

"Alhamdulillah, senang sekali. Sekarang sudah bisa punya rumah sendiri. Tidur juga lebih nyenyak," ujarnya.

Sebelum menempati rumah baru, Tristiyorini dan keluarganya menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan. Sejak menikah pada 2012, mereka tinggal bersama orang tua sang suami. Namun, karena rumah tersebut dihuni banyak anggota keluarga, aktivitas sehari-hari harus dilakukan secara bergantian.

"Kalau mandi harus antre, masak juga gantian. Rumah penuh, jadi rasanya tidak nyaman," kenangnya.

Setelah anak pertama lahir pada 2014, mereka memutuskan pindah ke rumah kakaknya yang sedang merantau ke Jakarta. Meski rumah itu kosong, kondisinya jauh dari layak karena kerap bocor saat hujan turun.

"Kalau hujan bocor. Tidurnya tidak pernah tenang," katanya.

Keterbatasan ekonomi membuat impian memiliki rumah sendiri terasa sulit diwujudkan. Suaminya, Agus Sugito, bekerja sebagai sopir pribadi dengan penghasilan yang tidak menentu, berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu setiap pekan. Penghasilan tersebut harus mencukupi kebutuhan hidup keluarga, termasuk biaya untuk tiga anak mereka yang kini bersekolah di tingkat SMA, SD, dan TK.

"Untuk belanja, uang saku anak-anak, listrik. Mau nabung susah. Kadang seminggu itu masih kurang, sampai harus pinjam saudara," tutur Tristiyorini.

Harapan baru muncul ketika ia mendapat kabar mengenai program bantuan rumah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Awalnya, Tristiyorini mengaku tidak langsung percaya hingga akhirnya menerima pemberitahuan resmi dari pihak kelurahan bahwa bantuan tersebut benar-benar diberikan kepada keluarganya.

"Sampai akhirnya ditelepon dari kelurahan kalau bantuan benar-benar turun. Rasanya bersyukur sekali," ungkap Tristiyorini.

Momen pertama menempati rumah baru menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bersama sang suami, ia duduk di teras rumah sambil mengenang perjalanan hidup yang penuh perjuangan hingga akhirnya impian memiliki rumah sendiri benar-benar terwujud.

"Ngobrol sama suami, alhamdulillah akhirnya kita punya rumah sendiri. Terwujud juga impian selama ini," terangnya.

Rumah yang kini mereka tempati memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dan ruang keluarga. Bagi Tristiyorini, rumah tersebut menjadi tempat yang layak untuk membesarkan ketiga anaknya. Perubahan juga dirasakan oleh anak-anaknya yang kini lebih percaya diri setelah sebelumnya kerap menjadi bahan ejekan karena belum memiliki rumah sendiri.

"Katanya rumahnya jelek, belum punya rumah sendiri. Saya sedih kalau dengar mereka cerita begitu," ucapnya.

Kini keadaan telah berubah. Teman-teman anaknya mulai datang bermain ke rumah mereka.

"Alhamdulillah sekarang sudah ada yang main ke sini. Tidak diejek lagi," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Tristiyorini, rumah yang diterimanya bukan hanya memberikan tempat berteduh, tetapi juga menghadirkan ketenangan serta mengembalikan rasa percaya diri seluruh anggota keluarga. Ia menuturkan, sang suami kini semakin bersemangat bekerja karena masih ingin menyelesaikan beberapa bagian rumah melalui bantuan pembangunan rumah untuk warga kurang mampu, seperti merapikan plester dinding dan memasang plafon.

"Pengin dirapikan lagi, dibuat lebih bagus. Suami juga jadi lebih semangat kerja," katanya.

Di akhir kisahnya, Tristiyorini menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi atas bantuan yang telah mengubah kehidupan keluarganya.

"Terima kasih Pak Gubernur sudah membantu saya membangun rumah. Saya senang sekali. Tidak pernah menyangka bisa punya rumah sendiri," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sempu, Midia Tulus Lusiyana, menjelaskan bahwa pada 2025 Desa Sempu memperoleh bantuan pembangunan sembilan unit rumah baru melalui program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Midia, bantuan tersebut diprioritaskan bagi warga yang belum memiliki rumah sendiri atau masih tinggal bersama orang tua maupun saudara, tetapi mempunyai kemampuan untuk bergotong royong dalam menyelesaikan pembangunan rumah.

"Dengan adanya program ini sangat membantu masyarakat kami. Mereka yang selama ini masih tinggal bersama orang tua atau saudara, akhirnya bisa memiliki rumah sendiri," katanya.

Ke depan, pemerintah desa berharap program bantuan rumah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berlanjut karena kebutuhan masyarakat terhadap hunian layak akan terus meningkat seiring bertambahnya keluarga baru di desa.

"Harapan kami program ini tetap ada pada tahun-tahun berikutnya. Rumah adalah kebutuhan dasar masyarakat. Masih banyak warga yang membutuhkan stimulan agar bisa memiliki rumah sendiri," pungkas Midia. Di sisi lain, program tersebut diharapkan terus memberi manfaat bagi masyarakat melalui dukungan Ahmad Luthfi dalam penyediaan hunian yang layak.