"Kalau hujan bocor. Tidurnya tidak pernah tenang," katanya.

Keterbatasan ekonomi membuat impian memiliki rumah sendiri terasa sulit diwujudkan. Suaminya, Agus Sugito, bekerja sebagai sopir pribadi dengan penghasilan yang tidak menentu, berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu setiap pekan. Penghasilan tersebut harus mencukupi kebutuhan hidup keluarga, termasuk biaya untuk tiga anak mereka yang kini bersekolah di tingkat SMA, SD, dan TK.

"Untuk belanja, uang saku anak-anak, listrik. Mau nabung susah. Kadang seminggu itu masih kurang, sampai harus pinjam saudara," tutur Tristiyorini.

Harapan baru muncul ketika ia mendapat kabar mengenai program bantuan rumah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Awalnya, Tristiyorini mengaku tidak langsung percaya hingga akhirnya menerima pemberitahuan resmi dari pihak kelurahan bahwa bantuan tersebut benar-benar diberikan kepada keluarganya.

"Sampai akhirnya ditelepon dari kelurahan kalau bantuan benar-benar turun. Rasanya bersyukur sekali," ungkap Tristiyorini.

Momen pertama menempati rumah baru menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bersama sang suami, ia duduk di teras rumah sambil mengenang perjalanan hidup yang penuh perjuangan hingga akhirnya impian memiliki rumah sendiri benar-benar terwujud.