Regional
Satu Titik Api Masih Muncul di Gunung Lawu, Luthfi Kerahkan Antisipasi Lanjutan
Satu titik api kembali terpantau di Gunung Lawu, Karanganyar. Ahmad Luthfi meminta penyisiran menyeluruh dan penguatan mitigasi karhutla.

KARANGANYAR — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, masih berlanjut. Meski kebakaran sebelumnya dilaporkan padam, satu titik api baru terpantau di atas Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, pada Senin pagi (26/10/2026).
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta petugas gabungan dan relawan melakukan penyisiran menyeluruh untuk memastikan tidak ada titik api lain yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Saat meninjau lokasi dan menggelar rapat terbatas di Pos Sakura Hills, Tawangmangu, Luthfi menyampaikan bahwa koordinasi telah dilakukan bersama Bupati Karanganyar dan BPBD. Helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga direncanakan kembali dikerahkan untuk mendukung pemadaman.
"Saya sudah koordinasi dengan Bupati dan BPBD, nanti heli BNPB di Lanud Adi Soemarmo akan diterjunkan satu sorti lagi. Satu titik api ini penting untuk kita evaluasi agar tidak timbul titik api lain," kata Luthfi.
Ahmad Luthfi Minta Petugas Tetap Siaga
Luthfi meminta seluruh petugas dan relawan tetap bertahan di pos masing-masing sembari melakukan evaluasi dan penyisiran di kawasan terdampak. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan penanganan kebakaran berjalan menyeluruh dan mencegah munculnya titik api baru.
Penanganan karhutla Gunung Lawu melibatkan BPBD Provinsi Jawa Tengah, BPBD Kabupaten Karanganyar, TNI, Polri, BNPB, serta relawan.
Selain penanganan di lapangan, pemerintah daerah juga diminta memperkuat upaya pencegahan melalui sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat. Warga diingatkan agar tidak membakar hutan, membuang puntung rokok sembarangan, maupun membakar sampah yang berisiko memicu kebakaran.
Dorong Pembangunan Embung dan Tandon Air
Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran di masa mendatang, Ahmad Luthfi meminta Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Karanganyar, dan Perhutani merancang pembangunan embung, tandon air, serta saluran air.
Menurutnya, ketersediaan sumber air di kawasan rawan kebakaran menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung penanganan darurat ketika terjadi bencana.
Luthfi juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya pencegahan dan mitigasi. Pengetahuan warga mengenai kondisi lingkungan sekitar dinilai dapat membantu menjaga kawasan hutan dan mengantisipasi potensi bencana.
"Keterlibatan masyarakat itu paling utama, karena punya kearifan lokal dalam rangka menjaga wilayah," ujarnya.
Adapun penyebab kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu hingga kini masih dalam penyelidikan kepolisian.
Pemadaman Gunung Lawu Gunakan 68 Ribu Liter Air
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, mengatakan kebakaran hutan di Gunung Lawu pada Minggu (25/10/2026) telah dilaporkan padam. Namun, hasil pemantauan pada Senin pagi menunjukkan adanya titik api baru di atas Gondosuli.
Pengerahan helikopter untuk pemadaman melalui metode water bombing akan mempertimbangkan kondisi cuaca terkini di kawasan Gunung Lawu.
Sugiharto menyebut upaya pemadaman menggunakan water bombing telah dilakukan sebanyak 34 kali. Setiap penyiraman menggunakan sekitar 2.000 liter air, sehingga total air yang telah dijatuhkan mencapai 68.000 liter.
Tantangan lain dalam pemadaman adalah karakteristik lahan di sejumlah titik. Lapisan ilalang yang menumpuk di permukaan tanah, dengan ketebalan mencapai sekitar 30 sentimeter di beberapa lokasi, memerlukan penanganan khusus karena berpotensi menyimpan bara api.
Dengan kondisi tersebut, pemantauan dan penyisiran lanjutan menjadi bagian penting dari upaya mencegah kebakaran kembali meluas di kawasan Gunung Lawu.(fi)
Baca juga
Baca Juga
Kategori
Berita Kategori Lainnya
Pilihan Redaksi




















