SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang menghadirkan aplikasi Sigap Hidran sebagai inovasi digital untuk mempercepat penanganan kebakaran. Melalui aplikasi tersebut, petugas maupun masyarakat dapat mengetahui lokasi hidran terdekat sehingga proses pemadaman diharapkan berlangsung lebih cepat dan efektif.
Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, mengatakan digitalisasi data hidran menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran, terutama saat musim kemarau.
Menurutnya, selama ini pencarian hidran masih dilakukan secara manual sehingga kerap menyita waktu ketika terjadi keadaan darurat. Kini seluruh titik hidran telah dipetakan dalam sistem sehingga dapat diakses lebih mudah.
"Kecepatan menemukan sumber air sangat menentukan keberhasilan pemadaman. Dengan aplikasi ini, petugas maupun masyarakat bisa langsung mengetahui lokasi hidran terdekat ketika terjadi kebakaran," ujar Handi.
Ia menjelaskan, setiap mobil pemadam kebakaran hanya mampu membawa pasokan air dalam waktu terbatas. Karena itu, keberadaan hidran yang mudah ditemukan akan mempercepat pengisian ulang air sekaligus mempercepat proses pengendalian api.
Selain meluncurkan aplikasi, Pemkot Semarang juga mengimbau masyarakat ikut menjaga akses menuju hidran agar tidak terhalang bangunan, kendaraan, maupun lapak pedagang.
"Kami berharap masyarakat turut menjaga agar titik hidran tetap mudah diakses. Hambatan sekecil apa pun dapat memperlambat penanganan ketika terjadi kebakaran," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Sih Rianung, mengatakan aplikasi Sigap Hidran dikembangkan berdasarkan kebutuhan petugas di lapangan yang kerap mengalami kesulitan mencari sumber air saat melakukan pemadaman.
Saat ini aplikasi tersebut telah memuat 295 titik hidran yang tersebar di berbagai wilayah Kota Semarang. Dari jumlah tersebut, 135 hidran sudah dalam kondisi aktif dan siap digunakan, sedangkan sisanya masih dalam proses pendataan dan koordinasi untuk dioptimalkan.
Data Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mencatat, sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 telah terjadi 148 kasus kebakaran di Kota Semarang. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat sistem penanganan kebakaran, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi bersama masyarakat.
Rianung menegaskan, peningkatan kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada petugas pemadam kebakaran, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan meminimalkan kerugian.(fa)