“Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini kami akan selesaikan,” ungkapnya.

Namun, Hakam mengingatkan rendahnya kasus DBD tidak berarti ancaman penyakit tersebut telah hilang. Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tetap perlu dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.

Apalagi, Kota Semarang kini memasuki periode kemarau. Cuaca panas dinilai dapat mempercepat proses perkembangan nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa.

“Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” tutur Hakam.

Selain mempercepat perkembangan nyamuk, kondisi panas juga dapat membuat aktivitas nyamuk Aedes aegypti berlangsung lebih lama.

Hakam mengatakan masyarakat sering merasakan nyamuk lebih aktif ketika cuaca panas. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena keberadaan Wolbachia tetap perlu didukung dengan perilaku pencegahan di lingkungan.