Sistem tersebut menggunakan rangkaian elektromagnet yang dipasang di sepanjang lintasan. Kutub magnet dapat berubah sesuai arah arus listrik yang dialirkan. Elektromagnet yang berada di depan kereta dibuat untuk menarik bagian depan gerbong. Ketika kereta melewatinya, arah arus listrik berubah sehingga kutub magnet di belakang kereta menghasilkan gaya tolak.

Kombinasi gaya tarik dari depan dan dorongan dari belakang membuat kereta bergerak maju secara continue, seolah-olah mengikuti sebuah gelombang magnetik. Kecepatan perpindahan kutub elektromagnet tersebut juga dapat dikendalikan. Semakin cepat perubahan medan magnet, semakin besar pula kecepatan propulsi kereta.

Salah satu laporan media China menggambarkan sistem ini sebagai "tangan raksasa" tak kasatmata yang mendorong kereta maju melalui propulsi elektromagnetik.

Tak hanya untuk kereta penumpang

Meski China dikenal memiliki salah satu jaringan kereta cepat terbesar di dunia, teknologi maglev ultra cepat seperti ini belum tentu digunakan untuk mengangkut penumpang antarkota dengan kecepatan 800-1.000 kilometer per jam.

Teknologi tersebut justru berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan lain, termasuk sektor militer dan kedirgantaraan. Salah satu penerapannya yang menarik adalah sistem peluncuran pesawat luar angkasa. Secara teori, propulsi elektromagnetik dapat digunakan untuk melontarkan wahana atau satelit menuju luar angkasa tanpa harus sepenuhnya mengandalkan roket berbahan bakar yang menghasilkan emisi.