JAKARTA – Film Backrooms sukses menghidupkan kembali fenomena liminal space, yakni ruang-ruang transisi yang tampak biasa tetapi mampu menimbulkan rasa gelisah. Koridor panjang, ruangan kosong dengan lampu neon, hingga lorong tanpa ujung menjadi elemen utama yang membuat film ini terasa mencekam meski minim adegan horor konvensional.
Alih-alih mengandalkan sosok hantu atau monster, Backrooms membangun ketakutan melalui suasana. Menurut sejumlah kajian psikologi yang dikutip dari IFL Science, respons tersebut muncul karena otak manusia kesulitan memahami lingkungan yang terasa familiar tetapi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Otak Selalu Mencari Pola
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terbiasa mengenali pola di sekitarnya. Saat memasuki lorong, otak secara otomatis memperkirakan akan menemukan pintu, jendela, atau orang lain di ujung jalan.
Namun di Backrooms, seluruh ekspektasi itu hilang. Lorong tampak terus berulang, pencahayaan tidak berubah, dan tidak ada tanda kehidupan. Ketika prediksi otak terus-menerus gagal, tubuh meningkatkan kewaspadaan sehingga muncul rasa tidak nyaman.
Efek "Uncanny Valley"
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan uncanny valley, yaitu kondisi ketika sesuatu terlihat hampir normal, tetapi memiliki sedikit kejanggalan yang sulit dijelaskan.
Dinding berwarna kuning kusam, suara dengung lampu neon, karpet polos, hingga ruangan yang terlalu bersih membuat otak merasa ada sesuatu yang tidak beres meskipun tidak menemukan ancaman secara nyata.
Kesunyian Menjadi Sumber Teror
Tidak adanya suara manusia atau aktivitas lain membuat otak menganggap lingkungan tersebut tidak aman.