*Menghidupkan Kembali Cerita Kampung*

Gagasan Grebeg Subali berangkat dari kesadaran bahwa sejarah sebuah kampung tidak selalu tersimpan dalam buku maupun arsip resmi. Sebagian sejarah justru hidup melalui cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Krapyak memiliki sejumlah cerita mengenai perubahan ruang dan lingkungan. Salah satunya berkaitan dengan Randu Alas, pohon randu besar yang dahulu menjadi bagian dari lanskap kampung. Ada pula cerita mengenai Dalan Kebo, jalur yang dahulu digunakan sebagai lintasan kerbau untuk menggarap sawah dan kini berubah menjadi Jalan Subali Raya.

Meski sebagian penanda fisik tersebut telah hilang atau berubah, cerita mengenai keberadaannya masih menjadi bagian dari memori masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar penyelenggaraan Grebeg Subali.

Kurator Grebeg Subali 2026, Tri Subekso mengatakan, tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk” menjadi cara untuk melihat hubungan antara masa lalu, kondisi hari ini, dan masa depan.

“Tema Ngeling, Ngilo, Nginguk kami pilih karena Krapyak memiliki banyak cerita dan jejak masa lalu yang penting untuk diingat. Ada ruang, nama tempat, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang mungkin secara fisik sudah berubah, tetapi memorinya masih hidup,” kata Tri Subekso.