Ia menegaskan, penggalian sejarah dalam Grebeg Subali tidak dimaksudkan sekadar menghadirkan nostalgia terhadap masa lalu.

“Grebeg Subali kami rancang bukan untuk membawa masyarakat sekadar bernostalgia. Masa lalu perlu dilihat sebagai cermin untuk memahami kondisi hari ini dan menjadi pijakan untuk menentukan masa depan. Karena itu, seni, diskusi, pameran, workshop, dan kirab kami tempatkan sebagai bagian dari perjalanan tersebut,” tambahnya.

*Tiga Hari Penuh Seni dan Tradisi*

Berbagai kegiatan telah disiapkan dalam Grebeg Subali 2026. Pada Jumat, 25 September, rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi budaya Kalangwan Ibu Pertiwi. Masyarakat akan berjalan bersama mengelilingi kampung sambil membawa lentera dan menembangkan “Ketawang Ibu Pertiwi” karya Ki Nartosabdo.

Prosesi tersebut dilanjutkan dengan pemasangan Lampu Teng-Teng di sejumlah titik. Kegiatan hari pertama juga diisi pembukaan pameran, pertunjukan Teater GEMA, serta diskusi budaya bertajuk “Dudah Krapyak: Dari Pesisir, Perkampungan, hingga Lahirnya Perumnas”.

Dalam diskusi tersebut, Tri Subekso dan Dina Prasetyawan menjadi pemantik dengan menghadirkan Sutanto, Rendra Agusta, dan Johanes Christiono sebagai narasumber.