ARUMAKATA.COM - Jakarta sedang berada pada persimpangan penting dalam perjalanan transformasi mobilitasnya. Dalam satu dekade terakhir, perubahan transportasi publik berlangsung relatif cepat. MRT, LRT, KRL Commuter Line, TransJakarta, Mikrotrans, integrasi JakLingko, pengembangan kawasan berorientasi transit, hingga perluasan konektivitas dengan wilayah penyangga telah mengubah wajah transportasi ibu kota. Hasilnya mulai terlihat pada jumlah pengguna. Pada Desember 2025, Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat TransJakarta melayani 37,46 juta penumpang, MRT Jakarta 4,06 juta, dan LRT Jakarta sekitar 119 ribu penumpang dalam satu bulan. Angka November 2025 juga berada pada tingkat yang hampir sama: 37,77 juta pengguna TransJakarta dan 4,06 juta pengguna MRT. Data tersebut memperlihatkan satu hal penting: masyarakat sebenarnya bersedia menggunakan transportasi publik ketika layanan yang tersedia mampu memberikan alasan yang kuat untuk memilihnya.

 

Namun, peningkatan jumlah penumpang juga membawa persoalan yang lebih besar. Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar menyediakan transportasi publik, tetapi bagaimana membuatnya cukup baik dan kompetitif sehingga masyarakat bersedia mengubah pilihan perjalanannya. Kenaikan jumlah penumpang belum tentu berarti berkurangnya penggunaan mobil dan sepeda motor. Penumpang baru bisa saja berasal dari masyarakat yang sebelumnya memang sudah menggunakan angkutan umum, dari pengguna lama yang semakin sering bepergian, atau dari perpindahan antar angkutan umum. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan transportasi tidak cukup hanya dilihat dari panjang rel, jumlah armada, halte, stasiun, atau jumlah penumpang. Yang lebih penting adalah berapa banyak perjalanan dengan kendaraan pribadi yang berhasil dialihkan ke transportasi publik. Orientasi kebijakan perlu bergeser dari sekadar menghitung pembangunan infrastruktur menuju hasil yang dirasakan masyarakat, dari Moving vehicles menjadi moving people.

 

Kelompok yang perlu diperhatikan bukan hanya masyarakat yang memang bergantung pada angkutan umum, tetapi juga mereka yang memiliki mobil atau sepeda motor dan sebenarnya mempunyai pilihan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kelompok inilah yang harus diyakinkan bahwa transportasi publik dapat menjadi pilihan yang lebih cepat, pasti, nyaman, aman, dan praktis. Di sinilah persoalan integrasi menjadi penting. Jakarta sesungguhnya sudah memiliki hampir seluruh unsur transportasi metropolitan modern. MRT, KRL, LRT, TransJakarta dan Mikrotrans sudah tersedia. Persoalannya bukan lagi semata-mata kekurangan moda, tetapi bagaimana berbagai moda tersebut menjadi satu rangkaian perjalanan yang mudah digunakan masyarakat. Bagi pengguna, MRT, KRL, LRT atau TransJakarta bukanlah tujuan akhir. Semuanya hanya bagian dari perjalanan dari rumah menuju kantor, sekolah, kampus, pasar, rumah sakit, atau tempat kegiatan lainnya. Karena itu, integrasi transportasi tidak boleh berhenti pada tiket dan tarif. Tarif integrasi JakLingko yang memungkinkan perjalanan menggunakan TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta dengan tarif gabungan maksimum Rp10.000 merupakan fondasi yang penting. Namun, masyarakat juga membutuhkan integrasi rute, jadwal, headway, informasi perjalanan, perpindahan moda, pedestrian, feeder, serta akses first and last mile. Masyarakat tidak membutuhkan banyak moda yang berdiri sendiri. Mereka membutuhkan satu perjalanan yang mudah dari awal sampai akhir.