Jakarta telah bergerak cukup jauh dari Fase public transport availability. Kini saatnya memasuki fase yang lebih menentukan: Availability, accessibility, integration, competitiveness, modal shift, habit, hingga mobility culture. Kota yang maju bukan kota yang mampu menampung semakin banyak kendaraan, melainkan Kota yang membuat masyarakat tidak merasa perlu membawa kendaraan pribadi untuk setiap perjalanan. Karena itu, ukuran keberhasilan transformasi Jakarta kelak bukanlah seberapa panjang rel yang dibangun atau berapa banyak bus yang dioperasikan, tetapi berapa banyak orang yang sebenarnya memiliki mobil atau sepeda motor namun secara sukarela memilih meninggalkannya karena transportasi umum menawarkan perjalanan yang lebih baik. Ketika itu terjadi, transportasi umum tidak lagi dipandang sebagai pelayanan bagi mereka yang tidak mempunyai kendaraan. Ia menjadi pilihan yang masuk akal bagi semua lapisan masyarakat. Ketika pilihan tersebut dilakukan berulang kali, pilihan itu akan menjadi kebiasaan.

 

Dari kebiasaan itulah budaya penggunaan transportasi publik dapat tumbuh. Jakarta dan Jabodetabek tidak hanya akan mengurangi kemacetan, tetapi juga Bergerak menjadi metropolitan yang mengelola mobilitas manusia, bukan sekadar mengelola kendaraan.

 

Robby Kurniawan adalah anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan Staf Ahli bidang Kawasan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan yang juga merupakan Doktor Ilmu Pemerintahan dari Institut Pemerintahan dalam Negeri (IPDN)