“Untuk mempercepat realisasi program, Kementan menggandeng 44 bupati dari berbagai daerah dalam konsolidasi pengembangan kawasan,” kata Amran.

Daerah yang terlibat tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku hingga Papua Selatan.

Tebu Jadi Salah Satu Andalan

Dari tiga komoditas yang disiapkan, tebu menjadi salah satu fokus utama. Pemerintah juga membuka ruang pengembangan bioetanol berbasis singkong dan jagung sesuai potensi masing-masing daerah.

Kementan menyebut kebutuhan lahan untuk pengembangan bioetanol dapat mencapai 1–2 juta hektare. Lahan tersebut diarahkan untuk membangun kawasan produksi bahan baku yang terintegrasi dengan industri pengolahan.

Dengan pola tersebut, pengembangan bioetanol tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Pemerintah ingin memastikan rantai pasok bahan baku tersedia secara berkelanjutan.

Dari E20 Menuju E50

Program bioetanol ini berkaitan dengan agenda pemerintah meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati dalam campuran bensin.