JAKARTAMenteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bergerak cepat menyiapkan fondasi program bioetanol nasional. Bukan hanya membahas pembangunan pabrik, Amran lebih dulu mengonsolidasikan daerah penghasil bahan baku.

Sebanyak 44 bupati dikumpulkan untuk mempercepat pengembangan kawasan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung.

Rapat koordinasi tersebut bahkan dimulai sejak pukul 06.00 WIB, Senin (21/9/2026). Pertemuan itu menjadi bagian dari langkah pemerintah menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare untuk menopang industri bioetanol.

Langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah membahas percepatan program bioetanol dalam rapat terbatas. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta persiapan lahan untuk mendukung target campuran bioetanol dalam BBM.

44 Bupati Diminta Siapkan Kawasan Produksi

Amran mengatakan pembangunan industri bioetanol tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fasilitas pengolahan. Ketersediaan bahan baku di tingkat hulu harus dipastikan terlebih dahulu.

Karena itu, pemerintah melibatkan 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi untuk memetakan potensi lahan, komoditas, dan kesiapan wilayah.

“Untuk mempercepat realisasi program, Kementan menggandeng 44 bupati dari berbagai daerah dalam konsolidasi pengembangan kawasan,” kata Amran.

Daerah yang terlibat tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku hingga Papua Selatan.

Tebu Jadi Salah Satu Andalan

Dari tiga komoditas yang disiapkan, tebu menjadi salah satu fokus utama. Pemerintah juga membuka ruang pengembangan bioetanol berbasis singkong dan jagung sesuai potensi masing-masing daerah.

Kementan menyebut kebutuhan lahan untuk pengembangan bioetanol dapat mencapai 1–2 juta hektare. Lahan tersebut diarahkan untuk membangun kawasan produksi bahan baku yang terintegrasi dengan industri pengolahan.

Dengan pola tersebut, pengembangan bioetanol tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Pemerintah ingin memastikan rantai pasok bahan baku tersedia secara berkelanjutan.

Dari E20 Menuju E50

Program bioetanol ini berkaitan dengan agenda pemerintah meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati dalam campuran bensin.

Sebelumnya, Presiden Prabowo meminta persiapan lahan tebu untuk mendukung target E20, yakni BBM dengan campuran 20 persen etanol, dalam waktu sekitar dua tahun.

Sementara itu, E50 atau campuran etanol 50 persen menjadi target lanjutan dalam agenda kemandirian energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 21 September 2026 menyebut penerapan E50 diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk bensin.

Artinya, target E50 tidak berdiri sendiri. Pemerintah perlu membangun fondasi bahan baku, industri pengolahan, teknologi, serta kesiapan distribusi secara bertahap.

Rapat Pagi Jadi Sinyal Percepatan

Kecepatan konsolidasi juga terlihat dari waktu rapat. Pertemuan bersama 44 bupati dimulai pukul 06.00 WIB.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang mengikuti rapat secara daring bahkan menyebutnya sebagai rapat paling pagi yang pernah ia ikuti selama dua tahun.

Kementan menyatakan pengembangan bioetanol diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus memanfaatkan potensi sektor pertanian nasional.

Dengan target lahan hingga 2 juta hektare, tantangan berikutnya bukan sekadar menyediakan lahan, tetapi memastikan produktivitas komoditas, kepastian kawasan, pembangunan industri, dan keberlanjutan pasokan dapat berjalan bersamaan.

Pemerintah kini menempatkan penguatan sektor hulu sebagai salah satu langkah awal sebelum industri bioetanol dikembangkan secara lebih masif di berbagai daerah.(fi)