JAKARTABank Indonesia (BI) menyoroti masih lambatnya pertumbuhan kredit bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hingga Juni 2026, penyaluran kredit UMKM hanya tumbuh sekitar 1 persen, jauh di bawah pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 12,6 persen.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan kondisi tersebut memang menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya yang sempat mengalami pertumbuhan negatif. Namun, menurutnya, peningkatan tersebut masih belum cukup sehingga perlu menjadi perhatian bersama.

"Memang ini lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sempat mengalami pertumbuhan negatif. Tetapi tetap menjadi pekerjaan rumah bersama bagaimana memperluas akses pembiayaan bagi UMKM," ujar Destry dalam agenda asesmen BI terkait pembiayaan UMKM, Jumat (24/7/2026).

Meski pertumbuhan kredit masih rendah, Destry menegaskan UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data Bank Indonesia, terdapat sekitar 64 juta pelaku UMKM di Indonesia yang menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Selain itu, sekitar 60 persen pelaku UMKM merupakan perempuan.

Literasi Keuangan Masih Rendah

Destry menjelaskan, tantangan terbesar UMKM bukan hanya soal akses permodalan, tetapi juga kemampuan manajemen usaha.

Menurutnya, masih banyak pelaku UMKM, termasuk startup yang dikelola generasi muda, memiliki inovasi tinggi namun belum dibarengi kemampuan mengelola keuangan secara profesional.

Kemampuan menyusun laporan keuangan, pencatatan arus kas, laporan laba rugi hingga neraca masih perlu diperkuat agar pelaku usaha lebih mudah memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan formal.

"Saat ini masih banyak UMKM yang bergantung pada pembiayaan informal dengan biaya yang jauh lebih mahal," katanya.

Karena itu, Bank Indonesia terus mendorong peningkatan kapasitas (capacity building) bagi pelaku UMKM agar lebih siap mengakses pembiayaan perbankan.

Adopsi Digital Perlu Diperluas

Selain literasi keuangan, BI juga menilai digitalisasi menjadi tantangan lain yang harus segera diatasi.

Destry mengakui pelaku usaha muda relatif cepat memanfaatkan teknologi digital. Namun secara umum tingkat adopsi digital di kalangan UMKM masih perlu ditingkatkan.

Ia bahkan menceritakan pengalamannya saat membeli tahu goreng dan singkong goreng dari pedagang kaki lima yang telah menggunakan pembayaran digital melalui QRIS.

Menurutnya, penggunaan QRIS memudahkan transaksi karena pedagang tidak perlu menyediakan uang kembalian. Meski demikian, ia tetap mengingatkan pentingnya menjaga keamanan kode QR agar tidak disalahgunakan oleh pihak lain.

Akses Pasar Masih Terbatas

Permasalahan lain yang masih dihadapi UMKM adalah akses pasar, baik domestik maupun ekspor.

Destry menyebut hanya sebagian kecil dari sekitar 64 juta UMKM yang berhasil menembus pasar internasional.

Salah satu contoh yang dinilai cukup berhasil adalah produk kopi Indonesia yang telah dikenal luas di berbagai negara. Namun, menurutnya, jumlah pelaku usaha maupun barista bersertifikat internasional masih terbatas sehingga perlu terus ditingkatkan.

"Kalau ingin masuk pasar global, kualitas produk maupun sumber daya manusianya harus terus ditingkatkan," ujarnya.

Bank Indonesia berharap penguatan akses pembiayaan, peningkatan literasi keuangan, digitalisasi usaha, serta perluasan akses pasar dapat menjadi strategi utama untuk mempercepat pertumbuhan sektor UMKM sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. (fi)