Semarang
Enam Korban Jiwa Akibat Leptospirosis, Dinkes Semarang Perkuat Pencegahan
Enam warga Semarang meninggal akibat leptospirosis sejak akhir 2025. Dinkes Kota Semarang memperketat Operasi Tangkap Tikus.

SEMARANG – Ancaman leptospirosis di Kota Semarang masih menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat enam warga meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan melalui bakteri dari urine tikus sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026.
Pemerintah Kota Semarang kini memperkuat langkah pencegahan dengan menggencarkan Operasi Tangkap Tikus (OTT) di sejumlah kawasan yang dinilai memiliki risiko penularan tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan peningkatan kasus leptospirosis berkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang sering tergenang banjir maupun rob.
"Kasus ini memang sudah kami antisipasi sejak akhir tahun lalu. Hingga pertengahan 2026 tercatat enam pasien meninggal dunia akibat leptospirosis," katanya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Hakam, bakteri Leptospira lebih mudah berkembang di lingkungan yang lembap, kotor, serta memiliki populasi tikus yang tinggi. Karena itu, kawasan permukiman padat penduduk menjadi fokus pengawasan Dinkes.
Sebagai langkah pengendalian, Dinkes bersama puskesmas dan pemerintah wilayah memasang perangkap tikus di berbagai titik rawan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menekan populasi tikus sekaligus memutus rantai penularan penyakit.
Baca juga
Baca Juga
Kategori
Berita Kategori Lainnya
Pilihan Redaksi




















