Dikatakan, meski kerja sama perdana, My Bumi sudah mengantongi setidaknya 80 jenis produk pelaku UMKM di bawah naungan IPEMI Jateng yang berpeluang laku keras di pasar Eropa, khususnya Belgia. Produk makanan kecil atau kudapan menjadi salah satu favorit warga Belgia. Juga produk kerajinan rumah tangga seperti kelengkapan sofa, tas, topi hingga perabotan hotel.

"Coco chips minatnya sangat besar di sana, bahan dari kelapa tua yang dijadikan chips atau keripik, ternyata banyak disukai masyarakat sana. Termasuk tomato chips, bahkan rengginang, dibuat camilan di sana. Rengginang banyak digunakan untuk bekal anak sekolah. Juga ada aneka jamu, banyak juga disukai masyarakat Belgia. Tentunya peluang ini harus ditangkap dari sisi peningkatan kualitas makanan hingga kemasannya," beber dia. 

Dalam kesempatan seminar tersebut, My Bumi memaparkan sejumlah materi menyangkut peluang produk UMKM yang banyak diminati pasar Eropa, khususnya Belgia. Termasuk tips bagaimana agar produk yang dihasilkan UMKM agar bisa memenuhi standar perdagangan global. 

CEO My Bumi Fatmi Woro Dwi Martanti memaparkan gambaran umum kesiapan ekspor dengan menekankan bahwa kesenjangan SDM seperti mindset, kepemimpinan dan literasi bisnis seringkali menjadi penyebab utama kegagalan ekspor sebelum masalah fisik produk muncul.   

"Kami memandang tahun 2026 sebagai waktu yang krusial bagi UMKM Indonesia untuk mempersiapkan diri dalam kurun waktu yang tersisa sebelum perjanjian (IEU-CEPA) berlaku efektif, khususnya membenahi kualitas SDM, ketertelusuran rantai pasok, dokumentasi uji tuntas, sertifikasi berkelanjutan dan kepatuhan asal barang," beber Woro yang juga Ketua PPLN Ipemi Belgia. 

Dalam sesi Give Your Product a Passport, Expert Eksport European, Emmanuel Weitzel menjelaskan tiga pertanyaan kunci pembeli Eropa terhadap produk impor. Yakni, darimana asalnya, bagaimana dibuat dan apa dampaknya bagi lingkungan.