"Jawa Tengah akan paling depan memerangi stunting. Seluruh kepala daerah di Jateng dituntut untuk menurunkan stunting," ujarnya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Zulfachmi Wahab mengatakan, komitmen terhadap percepatan penurunan stunting Jawa Tengah telah dijalankan melalui kolaborasi lintas sektor.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor risiko berdasarkan siklus hidup. Upaya tersebut juga mencakup pendampingan kepada ibu hamil yang memiliki risiko stunting.

"Dari ibu hamil itu kita bisa prediksi risiko stuntingnya, 85% stunting itu bisa diketahui sejak kehamilan, intervensinya berlanjut sampai 1.000 hari kehidupan pertama," katanya.

Berdasarkan data triwulan II tahun 2026, prevalensi stunting di Jawa Tengah tercatat sebesar 9,93 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan sejak 2024. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan atau disparitas prevalensi stunting di antara wilayah-wilayah di Jawa Tengah.

Beberapa daerah masih mencatat angka prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Tengah. Wonosobo tercatat sebesar 18,05 persen, Purworejo 16,62 persen, Banjarnegara 16,24 persen, Kabupaten Magelang 15,82 persen, dan Kabupaten Tegal 15,59 persen.