SEMARANG — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengajak masyarakat merawat nilai keberanian dan pengabdian yang diwariskan para pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Pesan itu disampaikan dalam upacara peringatan ke-81 Pertempuran Lima Hari di kawasan Tugu Muda, Rabu (14/10) malam, yang diikuti lebih dari dua ribu peserta dan personel gabungan.

Di hadapan Tugu Muda, Agustina mengingatkan bahwa pertempuran pada 14–18 Oktober 1945 berlangsung ketika kemerdekaan Indonesia baru saja diproklamasikan. Para pemuda, pejuang, dan masyarakat mempertaruhkan jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan yang saat itu masih harus diperjuangkan.

“Malam ini, di hadapan Tugu Muda, kita mengenang pengorbanan mereka. Kita mengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tumbuh dari sebuah keberanian, kehilangan, dan harapan yang diperjuangkan dengan sepenuh jiwa,” ujar Agustina.

Menurut Agustina, 81 tahun setelah peristiwa tersebut, wajah Kota Semarang telah berubah dan generasi terus berganti. Namun, keberanian mengambil tanggung jawab tetap relevan dalam kehidupan masyarakat. Nilai pengabdian itu dapat dijumpai pada orang-orang yang menjalankan tugas sehari-hari, meskipun pekerjaan mereka kerap luput dari perhatian.

Agustina mencontohkan tenaga kesehatan yang merawat pasien, petugas BPBD dan Damkar yang menangani kebakaran di TPA Jatibarang, pengangkut sampah, petugas kebersihan saluran air, serta relawan dan kader di kampung-kampung. Mereka bekerja untuk melindungi warga, menjaga kebersihan lingkungan, dan membantu masyarakat ketika membutuhkan pertolongan.

“Dari pekerjaan yang sering luput dari perhatian kita belajar bahwa keselamatan, kebersihan, dan kenyamanan sebuah kota tumbuh dari banyak tangan yang bekerja dengan sungguh-sungguh,” kata Agustina.