Namun, Hakam mengakui keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kedisiplinan seluruh fasilitas kesehatan dalam memperbarui data stok obat secara berkala.

"PR kami cukup besar karena melibatkan ratusan fasilitas kesehatan. Semua harus disiplin melakukan pembaruan data agar informasi yang diterima masyarakat benar-benar akurat dan real time," katanya.

Tak hanya mempermudah pencarian obat, Pharma City juga menjadi instrumen baru bagi Dinas Kesehatan untuk memetakan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit di setiap wilayah.

Melalui data yang terkumpul, Dinkes dapat mengetahui jenis penyakit yang paling banyak muncul di tingkat kelurahan maupun kecamatan sehingga distribusi obat dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

"Kami bisa memetakan penyakit yang dominan di suatu wilayah. Dengan begitu, apotek dapat menyediakan stok obat yang memang banyak dibutuhkan sehingga perputaran obat menjadi lebih efektif dan tidak ada stok mahal yang justru menumpuk," jelas Hakam.

Ia menambahkan, berdasarkan penelusuran yang dilakukan pihaknya, konsep layanan farmasi terintegrasi seperti Pharma City belum ditemukan di daerah lain di Indonesia.