"Kami bisa memetakan penyakit yang dominan di suatu wilayah. Dengan begitu, apotek dapat menyediakan stok obat yang memang banyak dibutuhkan sehingga perputaran obat menjadi lebih efektif dan tidak ada stok mahal yang justru menumpuk," jelas Hakam.
Ia menambahkan, berdasarkan penelusuran yang dilakukan pihaknya, konsep layanan farmasi terintegrasi seperti Pharma City belum ditemukan di daerah lain di Indonesia.
"Bahkan setelah kami telusuri, konsep seperti ini baru kami temukan di Kota Hainan, Tiongkok. Jadi ini benar-benar inovasi baru yang kami kembangkan di Semarang," ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, menyebut kehadiran Pharma City akan mengubah cara masyarakat memperoleh informasi ketersediaan obat.
Selama ini, masyarakat umumnya hanya dapat mengetahui stok obat di fasilitas kesehatan milik pemerintah. Sementara informasi stok obat di apotek swasta sulit diakses secara terbuka.
"Dengan aplikasi Pharma City yang mengintegrasikan seluruh apotek di Kota Semarang, masyarakat bisa langsung mengetahui obat yang dibutuhkan tersedia di apotek mana. Mereka tidak perlu lagi berkeliling dari satu apotek ke apotek lain," kata Handi.
Menurutnya, aplikasi tersebut juga memberikan keuntungan bagi pelaku usaha farmasi karena membantu mereka menyusun strategi penyediaan obat berdasarkan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Handi mengungkapkan, inovasi yang dikembangkan Kota Semarang telah mendapat apresiasi dari Kementerian Kesehatan dan berpeluang menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
"Menurut Direktur dari Kementerian Kesehatan, Pharma City merupakan yang pertama di Indonesia. Dari 540 kabupaten/kota dan 38 provinsi, Kota Semarang menjadi pionir. Inovasi ini akan dilaporkan kepada Menteri Kesehatan agar dapat direplikasi di berbagai daerah. Harapannya, dari Semarang lahir sebuah sistem pelayanan farmasi yang bermanfaat untuk seluruh Indonesia," pungkasnya. (fi)