SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang terus mendorong hasil riset dan inovasi agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan teknologi Mobile Water Treatment yang disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum saat terjadi bencana.

Sebanyak lima Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana hasil inovasi UNDIP diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di halaman Widya Puraya UNDIP, Selasa (1/9/2026).

Kelima unit tersebut dikembangkan oleh Prof. Dr. I Nyoman Widiasa, S.T., M.T., bersama tim UNDIP. Penyerahan ini merupakan tindak lanjut dari ketertarikan BNPB terhadap teknologi pengolahan air yang dikembangkan UNDIP setelah kunjungan kerja ke kampus tersebut pada 2025.

Teknologi UNDIP Bisa Hasilkan Air Bersih dan Air Minum

Mobile Water Treatment UNDIP dirancang untuk mengolah air sehingga dapat digunakan sebagai air bersih sekaligus air yang siap dikonsumsi.

Setiap unit memiliki kemampuan mengolah sekitar 20 ribu liter air bersih dan 2 ribu liter air minum setiap hari.

Kemampuan tersebut menjadikan teknologi ini berpotensi mendukung pemenuhan kebutuhan air masyarakat di wilayah terdampak bencana, terutama ketika akses terhadap sumber air bersih dan air minum mengalami gangguan.

Teknologi pengolahan air ini sekaligus menjadi bukti bahwa hasil riset perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi solusi praktis untuk kebutuhan masyarakat dalam kondisi darurat.

Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menegaskan komitmen kampus untuk terus mendarmabaktikan hasil penelitian dan inovasi bagi masyarakat.

“Pada prinsipnya, UNDIP sangat berkomitmen untuk mendarmabaktikan hasil riset dan inovasi agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Hari ini, salah satunya kita wujudkan melalui penyerahan Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana buatan UNDIP untuk digunakan dalam penanganan bencana,” ujar Prof. Suharnomo.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Prof. Dr. I Nyoman Widiasa, S.T., M.T., selaku inovator Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana, menyebut penyerahan lima unit tersebut sebagai langkah awal kontribusi UNDIP dalam mendukung penanganan bencana di Indonesia.

“Ini merupakan awal kontribusi UNDIP dalam mendukung tanggap bencana di Indonesia. Kami berharap kepercayaan ini terus berkembang sehingga UNDIP dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam kebencanaan di Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap pengembangan teknologi tersebut dapat terus dilakukan sehingga jangkauan pemanfaatannya semakin luas dan mampu mendukung kebutuhan masyarakat ketika terjadi bencana.

BNPB Apresiasi Teknologi Pengolahan Air UNDIP

Perwakilan mitra BNPB, Martino Budiawan, memberikan apresiasi terhadap teknologi yang dikembangkan Prof. Nyoman bersama tim UNDIP.

Menurutnya, teknologi tersebut memiliki keunggulan karena mampu melakukan pengolahan air hingga menghasilkan air yang siap dikonsumsi.

“Alat yang diproduksi Prof. Nyoman bersama UNDIP ini memang cukup kompleks dibandingkan alat lainnya. Kalau alat lain mungkin hanya mengolah air sampai menjadi air bersih, teknologi UNDIP dapat mengolahnya hingga menjadi air yang siap dikonsumsi,” jelas Martino.

Martino mengatakan, lima unit Mobile Water Treatment tersebut pada tahap awal direncanakan untuk mendukung kebutuhan penanganan bencana di wilayah Jawa Tengah.

Sementara itu, penempatan dan distribusi unit akan disesuaikan dengan arahan serta kondisi kebutuhan di lapangan.

Penyerahan lima Unit Pengolahan Air Tanggap Bencana kepada BNPB menjadi bagian dari komitmen UNDIP dalam mengembangkan riset yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

Melalui inovasi Mobile Water Treatment, UNDIP berharap teknologi hasil penelitian kampus dapat menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi persoalan ketersediaan air bersih dan air minum ketika bencana terjadi.

Kolaborasi dengan BNPB juga diharapkan membuka peluang pengembangan inovasi kebencanaan lainnya sehingga kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penanganan bencana di Indonesia semakin kuat. (fi)