Alunan jazz elegan akan menjadi penutup rangkaian acara sekaligus melengkapi perpaduan antara kuliner, wastra, seni, dan budaya dalam satu malam.

Menurut panitia, konsep tersebut merupakan bagian dari semangat Festival Kota Lama Semarang untuk membawa warisan budaya atau heritage ke dalam perspektif yang lebih hidup dan relevan.

Namun, modernisasi konsep tidak berarti meninggalkan akar sejarah. Nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya tetap menjadi bagian utama dari festival.

Persiapan Kidung Wastra sendiri terus dimatangkan melalui rapat koordinasi yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Senin (31/8/2026).

Rapat dipimpin Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, bersama Ketua Panitia Festival Kota Lama, Agus Suryono. Sejumlah perwakilan OPD dan instansi terkait turut hadir.

Kidung Wastra diharapkan menjadi salah satu wajah baru Festival Kota Lama Semarang dalam mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui bahasa budaya yang lebih kreatif.