SEMARANG — Festival Kota Lama (FKL) Semarang ke-15 kembali menghadirkan konsep perayaan budaya yang berbeda. Bertajuk “Kidung Wastra”, gelaran tahun ini memadukan kekayaan wastra Nusantara, kuliner Indonesia, musik jazz, seni pertunjukan, serta suasana heritage kawasan Kota Lama Semarang.

Kidung Wastra dijadwalkan berlangsung di Skola Resto, kawasan Kota Lama Semarang, Sabtu (5/9/2026) malam.

Konsep tersebut mendapat dukungan dari Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM LCC) yang selama ini fokus pada pengembangan bahasa dan budaya.

Direktur USM LCC sekaligus panitia Festival Kota Lama, Adi Ekopriyono, mengatakan Kidung Wastra dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai ekspresi budaya.

Menurutnya, wastra tidak hanya dapat dinikmati melalui bentuk dan motifnya, tetapi juga dapat dihubungkan dengan cerita, filosofi, kuliner, dan seni pertunjukan.

“Setiap motif memiliki makna, setiap hidangan memiliki cerita, dan setiap pertemuan meninggalkan kenangan,” kata Adi.

Nikmati 14 Sajian Modern Indonesian Rijsttafel

Salah satu daya tarik Kidung Wastra adalah konsep Modern Rijsttafel Dinner yang akan mengajak para tamu menikmati perjalanan kuliner melalui 14 sajian.

Menu 14-course Modern Indonesian Rijsttafel tersebut merupakan hasil kolaborasi Skola Resto dan Chef Glenn Erari.

Pengalaman bersantap itu tidak berdiri sendiri. Para tamu juga akan diajak menikmati pertunjukan seni dan eksplorasi wastra Nusantara, sekaligus mendengarkan alunan musik jazz.

“Acara ini unik, menghadirkan harmoni kuliner, jazz, filosofi, dan budaya. Pengunjung bisa menikmati hidangan, mendengarkan musik jazz, sekaligus meresapi kajian budaya dan filosofi wastra Nusantara,” ujar Adi.

Karena dikemas secara terbatas, Kidung Wastra menjadi agenda yang ditujukan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pengalaman budaya sekaligus kuliner dalam suasana khas Kota Lama Semarang.

Reservasi dapat dilakukan melalui nomor 0895-6122-32020.

Wastra Nusantara dalam Sehelai Kain

Rangkaian acara akan diawali dengan pertunjukan Latin Dance yang memberikan nuansa dinamis dan modern.

Selanjutnya, pengunjung akan disuguhi Indonesian Wastra Experience bertema “Kisah Dalam Sehelai Kain”.

Melalui subtema “Sehelai Kain, Seribu Cerita”, pengunjung diajak melihat wastra tradisional bukan sekadar sebagai produk busana.

Di balik setiap kain terdapat perjalanan sejarah, filosofi, identitas budaya, serta kreativitas para pengrajin dari berbagai daerah di Indonesia.

Konsep tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan warisan budaya Nusantara kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih modern dan dekat dengan generasi masa kini.

Ditutup Penampilan Jazz Nita Aartsen

Suasana Kidung Wastra akan semakin lengkap dengan penampilan musisi jazz kenamaan Nita Aartsen.

Alunan jazz elegan akan menjadi penutup rangkaian acara sekaligus melengkapi perpaduan antara kuliner, wastra, seni, dan budaya dalam satu malam.

Menurut panitia, konsep tersebut merupakan bagian dari semangat Festival Kota Lama Semarang untuk membawa warisan budaya atau heritage ke dalam perspektif yang lebih hidup dan relevan.

Namun, modernisasi konsep tidak berarti meninggalkan akar sejarah. Nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya tetap menjadi bagian utama dari festival.

Persiapan Kidung Wastra sendiri terus dimatangkan melalui rapat koordinasi yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Senin (31/8/2026).

Rapat dipimpin Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, bersama Ketua Panitia Festival Kota Lama, Agus Suryono. Sejumlah perwakilan OPD dan instansi terkait turut hadir.

Kidung Wastra diharapkan menjadi salah satu wajah baru Festival Kota Lama Semarang dalam mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui bahasa budaya yang lebih kreatif.

Semangat tersebut sejalan dengan slogan “Unity in Diversity” dan benang merah Festival Kota Lama, yakni “Kuno, Kini, Nanti.” (fi)